Analisis Jurnal Sektor Tembakau

Posted: November 30, 2011 in teori ekonomi 1 SMAK04-3

Peranan Sektor Tembakau dan Industri Rokok dalam Perekonomian Indonesia :

Analisis Tabel I-O

Tahun 2000

Prajogo U.  Hadi dan Supena Friyatno

Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Jl. A. Yani No.  70 Bogor 1616

Tema atau Topik Penelitian

Peranan Tembakau terhadap Perekonomian Indonesia.

Latar Belakang Penelitian

           Indonesia merupakan negara pengekspor tembakau terbesar ke enam di dunia, tetapi belakangan ini muncul kontroversi terhadap komoditas tembakau tersebut karena selain memberikan pemasukan yang besar terhadap kas negara, tembakau juga memiliki sisi negative dari segi kesehatan. Untuk menangani hal tersebut pemerintah berinisiatif untuk menaikan cukai rokok agar konsumsi terhadap tembakau menurun. Berdasarkan  fenomena tersebut maka analisis ini dibuar untuk memberikan gambaran mengenai dampak dari kebijakan pemerintah itu terhadap perekonomian Indonesia. Untuk mengetahui keadaan perekonomian Indonesia dari sektor pertanian tembakau setelah pemerintah menaikan cukai rokok.

Metodologi

                Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif yang di sempurnakan dengan kualitatif. Kinerja ekonomi tembakau dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu (1) perkembangan luas areal, produksi, dan produktivitas pertanian tembakau; (2) perkembangan jumlah industri pengolah berikut produksi dan penyerapan tenaga kerja; dan (3) sifat konsumsi produk tembakau. Untuk analisis perkembangan digunakan metode pengukuran trend sebagaimana ditunjukan pada persamaan (1)sebagai berikut :

                 Dengan adanya tekanan yang makin kuat oleh gerakan anti rokok dan meluasnya kawasan bebas rokok, maka permintaan akan produk tembakau diperkirakan akan menurun yang akan menyebabkan laju pertumbuhan produksi rokok dan tembakau (β) akan mempunyai nilai negative, yang berarti menurun. sifat konsumsi produk tembakau dapat dilihat dari bentuk kurva Engel, baik untuk daerah pedesaan maupun perkotaan. Untuk itu digunakan metode grafis.

                   Peranan tembakau dan produk terunannya dalam penciptaan penerimaan negara dapat dilihat dari pangsa jumlah cukai rokok terhadap devisa dapat diukur dari neraca perdagangan, yaitu apakah perdagangan produk tembakau lebih banyak menciptakan atau menyerap devisa negara.

Statistik Perkebunan Tembakau 2005-2007 (Ditjen Perkebunan, 2006).

Tahun

Luas Areal (ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (kg/ha)

2000

239.737

204.329

852

2001

260.738

199.103

764

2002

256.081

192.082

750

2003

256.801

200.875

782

2004

200.973

165.108

822

2005

198.212

153.470

774

2006

172.234

146.265

849

Laju (%/th)

-6,37

-5,98

0,39

                   Harga tembakau di pasar dunia cenderung menurun selama 8 tahun terakhir (1997-2004) dengan rata-rata 2.34 persen/tahun, padahal pada periode sebelumnya masih meningkat 3,10 persen’tahun, padahal pada periode sebelumnya masih meningkat 3,10 persen/tahun selama 1962-1986 dan 1,96 persen/tahun selama 1986-1997. Menurunnya harga tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh terjadinya kelebihan produksi karena menurunnya permintaan.

Rata-rata Konsumsi Produk Tembakau per Kapita per Minggu di Indonesia, 2006

Kota

Desa

Rataan

Rokok kretek filter (bt)

6,747

5,152

5,855

Rokok kretek tanpa filter (bt)

2,970

3,427

3,226

Rokok putih (bt)

0,696

0,636

0,663

Tembakau (g)

1,4

9,1

5,7

Total rokok (bt)

10.431

9,215

9,744

Hasil dan Analisis

                  Tanaman tembakau diusahakan oleh rakyat (perkebunan rakyat, PR) dan perkebunan besar negara (PBN). Tanaman ini pernah diusahakan juga oleh perkebunan besar swasta (PBS) tetapi hanya sampai dengan tahun 1983. Perkembangan luas area, produksi, dan produktivitas tembakau di Indonesia selama 2000-2006 diperlihatkan pada table di atas. Terlihat bahwa luas areal dan produksi menurun dengan rata-rata masing-masing 6,37 persen dan 5,98 persen per tahun. Lebih lambatnya laju penurunan produksi disebabkan oleh meningkatnya produktivitas rata-rata 0,39%

                  Produk tembakau yang dikonsumsi penduduk di Indonesia terdiri dari rokok kretek filter, rokok kretek tanpa filter, rokok pituih, dan tembakau. Sebagian besar produk tembakau yang dikonsumsi adalah rokok kretek filter.

                  Untuk semua jenis rokok, rata-rata jumlah konsumsi adalah 10,413 batang untuk di daerah perkotaan dan 9,251 batang di daerah perdesaan atau 9,744 batang untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Rokok kretek filter dan rokok putih lebih banyak dikonsumsi masyarakat perkotaan, sedangkan rokok kretek tanpa filter lebih banyak dikonsumsi di daerah perdesaan.

                  Hubungan antara konsumsi per kapita dan pendapatan rumah tangga per kapita (diproksi jumlah pengeluaran) secara grafis di sebut Kurva Engel. Hubungan tersebut untuk daerah perkotaan cenderung linier, sedangkan untuk daerah perdesaan cenderung konveks dan terjadi peningkatan tajam pada golongan pendapatan paling tinggi. Secara rata-rata, hubungan tersebut cenderung linier. Jika pendapatan terus meningkat, maka konsumsi rokok akan meningkat, terutama di perdesaan.

Sumber penerimaan Negara

                 Cukai hasil tembakau merupakan salah satu sumber penerimaan negara dari dalam negeri. Sebagian besar penerimaan cukai berasal dari hasil tembakau (sekitar 95%).

                Tembakau dan produk tembakau bukan merupakan sumber devisa negara karena impor tembakau sebagai bahan baku industri rokok dan impor produk tembakau (rokok) untuk konsumsi langsung bersifat menguras devisa negara.

Year

Ekspor

Impor

Defisit

2000

71,287

114,834

43,547

2001

91,404

139,608

48,204

2002

76,684

105,953

29,269

2003

62,874

95,190

32,316

2004

90,618

120,854

30,236

2005

117,433

179,201

61,768

2006

107,787

189,915

82,128

Laju (%/th)

6,82

7,64

8,68

Kesimpulan dan Rekomendasi

                 Produksi tembakau di Indonesia semakin menurun karena menurunnya luas area yang digunakan untuk menaman tembakau. Selain itu penurunan produksi tembakau di sebabkan oleh tidak adanya dukungan Pemerintah terhadap pengembangan tembakau ini. Karena peranan tembakau hanya memberikan sumbangan sekitar 7 persen terhadap penerimaan negara dari dalam negeri, sedangkan di segi Internasional lebih banyak menguras devisa negara dibanding dengan pendapatan yang diterima negara.

                      Pengembangan sektor tembakau dan industri rokok harus memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi dan juga aspek kesehatan. Dimana saat memperhatikan aspek kesehatan Pemerintah menaikkan cukai yang tinggi untuk tembakau dan itu bisa mematikan industri rokok dan pertanian tembakau. Tetapi penentuan cukai juga tidak boleh terlalu rendah karena ditakutkan dengan harga rokok yang murah makin banyak masyarakat yang mengkonsumsi rokok. Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah jangan sampai generas muda zaman sekarang terjebak kedalam kebiasaan merokok karena dapat merusak kesehatan. Mungkin dengan cara menurunkan kandungan nikotin dan tar dalam rokok perlu dikurangi melalui penemuan varietas tembakau yang mempunyai kandungan nikotin dan tar yang rendah, sehingga antara aspek kesehatan dan juga aspek ekonomi. Dimana Pemerintah bisa memperhatikan kesehatan masyarakatnya tanpa harus mematikan pertanian tembakau dan juga industri rokok selain itu Pemerintah juga mendapatkan pendapatan negara dari dalam negeri.

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s