Analisis Jurnal tentang Efisiensi

Posted: Januari 26, 2012 in teori ekonomi 2

PERAN PEDAGANG KAKAO DALAM PENINGKATAN

EFISIENSI PASAR DI SULAWESI SELATAN

(The Role of Cocoa Trader in Increasing Market Efficiency in South Sulawesi)

Darwis Ali

e-mail: darwisali@yahoo.co.id

Staf Pengajar Program Studi Agribisnis,

Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin

Rusli M. Rukka

e-mail: ruslimrukka@unhas.ac.id

Staf Pengajar Program Studi Agribisnis,

Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin

Tema atau Topik Penelitian

Peran Kakao demi penikatan efisiensi pasar

Latar Belakang Penelitian

  • Fenomena

Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan dari Provinsi Sulawesi Selatan bahkan merupakan produsen kakao terbesar di Indonesia dengan kontribusi sebesar 70 persen dari total kakao secara nasional. Ini didukung dari luas areal tanam kakao seluas 208.450 ha yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.

  • Riset Terdahulu

Dengan luas tanam kakao dapat memproduksi sebesar 167.493 ton dan melibatkan  petani  sebanyak  232.482 orang. Data  Badan  Pusat  Statistik (BPS) yang di Sulawesi Selatan mengatakan bahwa komoditas  kakao merupakan  komoditas  andalan  ekspor terbesar kedua setelah ekspor nikel. Dikatakan juga bahwa komoditas kakao telah berhasil menyumbang 12,02% terhadap total ekspor.

  • Motivasi Penelitian

Penelitian  ini  bertujuan untuk mengetahui efisiensi pemasaran dan mengetahui seberapa besar peran pedagang kakao dalam meningkatkan efisiensi  pasar kakao di Sulawesi Selatan.

METODOLOGI

  • Data

Data menggunakan data sekunder dimana penelitian dilakukan dengan menganalisis hasil penelitian lain yang sudah dilengkapi dengan data yang diperoleh dari instansi pemerintah seperti data Badan Pusat Statistik (BPS).

  • Variabel

Didalam penelitian peran pedagang kakao dalam meningkatkan efisiensi pasar menggunakan variabel luas tanam kakao, produksi biji kakao, dan tingkat perkembangan sosial ekonomi.

  • Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method approach, yaitu menggunakan quantitative dan qualitative research  designs secara simultan. Metode quantitative research  designs adalah metode survey dengan melakukan wawancara dan observasi , sedangkan qualitative  research  designs menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). Dengan menggunakan metode tersebut demi memperoleh  data  yang  komprehensif  dan  saling  melengkapi  sehingga  kondisi lapangan dapat dijelaskan dengan baik.

Hasil dan Analisis Penelitian

Efisiensi  pasar  adalah  ukuran  dari persentase  perbandingan  antara  biaya pemasaran  dengan  nilai  produk  yang dipasarkan.    Setiap  lembaga harus melakukan efisiensi  dari  kegiatan pemasaran  yang  dilakukannya,  sehingga biaya  pemasaran  dapat  ditekan  dan keuntungan  yang  diperoleh  pedagang  dapat lebih  tinggi.  Semakin  rendah  angka persentase  efisiensi  pasar,  maka  semakin tinggi  efisiensinya

Karakteristik  perolehan  keuntungan pedagang  pada  pemasaran  biji kakao  adalah  tidak menurunkan harga  pada  saat  pembelian,  tetapi keuntungan  didapat  dari  kompensasi penyesuaian  standar  mutu  (kadar  air,  jamur dan kotoran). Selain itu juganlokasi  pembelian  yang tidak terlalu  jauh  dari  pusat  kegiatan  pedagang dan  kecenderungan  membuat biaya yang dikeluarkan semakin kecil. Tingkat  margin  untuk  setiap pedagang bervariasi.  Margin  pemasaran  adalah perbedaan  harga  yang  dibayar  kepada  penjual pertama dan harga yang dibayar oleh pembeli  terakhir.  Secara  teoritis,  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  margin pemasaran  adalah Biaya  pemasaran, keuntungan dari perantara, harga eceran, harga  produsen, sifat  barang  yang diperdagangkan, dan tingkat pengolahan barang yang dipasarkan.

Hasil  analisis  mengenai  efisiensi pemasaran  pada  setiap  tingkatan  pedagang dan  saluran  pemasaran  biji  kakao  secara rinci disajikan pada Tabel 2.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan  pemasaran  yang  paling  efisien terjadi  pada  Saluran  IV  yaitu  3,50%  dan yang  paling  tidak  efisien  adalah  pada kegiatan pemasaran Saluran I yaitu 14,57 %.  Meskipun demikian, kegiatan pemasaran biji kakao  dapat  disimpulkan  relatif  efisien karena persentase efisiensi pemasaran masih relatif kecil.

Demi  meningkatkan  efisiensi  pemasaran,  pedagang  kakao  menempuh  cara yang pertama,  memberikan  pemahaman  kepada petani  mengenai  cara  menetapkan  harga  biji kakao  yang  dilakukan  pedagang  besar. Pentingnya petani mengetahui ini demi membangun mutual-trust  (saling  percaya)  antara  pedagang  dan  petani  kakao.  Hubungan  saling percaya  di  antara  keduanya  akan  meningkatkan penilaian  petani terhadap strategi yang  digunakan  pedagang  dalam  pengadaan biji  kakao.  Kedua,  meningkatkan  nilai penjualan  pada  tingkat  saluran  pemasaran berikutnya  yaitu  dengan  melakukan  pembersihan  dan  pengeringan  pada  biji  kakao yang  dibelinya  dan  selanjutnya  disortasi. Ketiga,  membebankan  biaya  buruh  kepada pedagang  besar , dan  keempat,  melakukan titip angkut untuk efisiensi agar biaya yang dikeluarkan dalam pemasaran berkurang dan keuntungan  yang akan  diterima  menjadi lebih besar.

Simpulan dan Saran

Simpulan :

Efisiensi pasar merupakan tolak ukur dari perbandingan antara biaya pemasaran dengan nilai produk yang dipasarkan. Semakin tinggi persentase efisiensi pasar, maka semakin rendah efisiensinya. Pedagang kakao haruslah mempunyai kerjasama yang baik antar pedagang terutama dari segi harga yang berfluktuasi setiap harinya. Dengan adanya peran pedagang kakao dapat meningkatkan efisiensi pemasaran karena telah membantu kelancaran transaksi biji kakao basah, dan menjaga keberlangsungan pemasaran kakao melalui usaha peningkatan produksi ramah lingkungan.

Saran :

Pemerintah diharapkan melakukan control dalam lalu lintas distribusi kakao di Sulawesi Selatan demi menjaga efisiensi pemasaran dan memfasilitasi guna peningkatan mutu kakao untuk tujuan ekspor. Kerjasama antar pegadang juga perlu tetap ada yang diharapkan tetap terakumulasi secara melembaga agar dapat lebih mudah berkoordinasi dengan pemerintah dan tidak bekerja secara parsial. Dan perlunya lembaga keuangan mikro agar petani kakao dapat mengakses permodalan untuk biaya produksi, dan pegadang pengumpulan juga lebih mudah mengakses modal juga lebih mudah mengakses modal pengadaan biji kakao.

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/

 

Komentar
  1. outbound malang mengatakan:

    trimakasih sob
    artikel nya sangt membangun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s