Sistem Kliring Elektronik

Posted: April 2, 2012 in Bank dan Lembaga Keuangan

Diagram di atas menjelaskan tentang terjadinya sistem kliring. Sebagai suatu ilustrasi bahwa Pak E mempunyai giro di bank A. Pak E melakukan transaksi kepada Pak U untuk membeli suatu barang dan membayarnya dengan menggunakan cek yang dibuat Bank A karena Pak E mempunyai giro di Bank A. Pak U yang mempunyai tabungan di Bank X memberikan cek yang diterima dari Pak E untuk ditukarkan atau ditambahkan uangnya di tabungannya yang berada pada Bank X. Bank X yang tidak mengetahui apakah cek yang dibuat Bank A ada saldonya atau tidak maka Bank X pergi ke Bank Indonesia untuk melakukan pengecekan dan menyerahkan warkat kliring (session 1). Kemudian oleh Bank Indonesia memberikannya kepada Bank A untuk dilakukan pengecekan apakah saldo tabungan yang ada atas nama Pak E mencukupi dana yang tertulis di dalam cek itu apa tidak. Jika mencukupi proses kliring akan di terima sedangkan jika tidak proses kliring tidak bisa dilakukan. Setelah melakukan pengecekan di Bank A bahwa proses kliring tetap dapat dilanjutan maka Bank A pergi ke BI untuk memberitahukan bahwa cek tersebut berisi saldo tabungan yang mencukupi sesuai dengan jumlah saldo yang tercatat di cek. Setelah melakukan pengecekan BI bisa langsung menyetujui proses kliring dan melakukan pemindah bukuan antara Bank A dengan Bank X yang ada di Bank Indonesia. Pemindah bukuan yang dilakukan sesuai dengan jumlah saldo yang tertera pada cek tersebut.

Dapat disimpulkan atas ilustrasi di atas bahwa kliring adalah proses tagih menagih antara bank atau penyelesaian piutang. Di dalam melakukan transaksi seperti ilustrasi di atas bukan hanya dua bank yang berbeda yang terlibat didalam proses kliring. Ada banyak bank yang melakukan transaksi seperti itu dalam sehari. Sebagai contoh lainnya : ada tiga bank yang terdiri dari Bank A, Bank B, dan Bank C. salah satu dari nasabahnya melakukan transaksi dan mendapatkan cek yang dibuat dari bank B sebesar 10 juta. Bank A juga mempunyai cek dari bank C sebesar 5 juta. Bank B pun mempunyai cek dari Bank A sebesar 20 juta dan mempunyai cek dari Bank C sebesar 5 juta. Begitupun dengan bank C yang mempunyai cek dari Bank A sebesar 15 juta dan cek dari bank B sebesar 10 juta. Dari ilustrasi di atas dapat di ringkas dengan bagan seperti berikut ini :

Bank A mempunyai cek Bank B sebesar 10 juta

Bank A mempunyai cek Bank C sebesar 5 juta

Bank B mempunyai cek Bank A sebesar 20 juta

Bank B mempunyai cek Bank C sebesar 5 juta

Bank C mempunyai cek Bank A sebesar 15 juta

Bank C mempunyai cek Bank B sebesar 10 juta

Untuk mengetahui bank manakah yang kalah dan menang maka dapat dilakukan cara seperti ini ;

Bank A

Bank B

Bank C

Warkat 1 + 10 juta –          10 juta
Warkat 2 + 5 juta –          5 juta
Warkat 3 –          20 juta + 20 juta
Warkat 4 + 5 juta –          5 juta
Warkat 5 –          15 juta + 15 juta
Warkat 6 –          10 juta + 10 juta
Jumlah –          20 juta + 5 juta + 15 juta

Kalau jumlah rekening kliring bertambah maka menang kliring dan jika rekening berkurang maka kalah kliring. Jadi, dari hasil jumlah yang didapat maka diketahui bahwa Bank A yang telah kalah karena telah berkurang 20 juta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s